Showing posts with label Kesaksian. Show all posts
Showing posts with label Kesaksian. Show all posts
Wednesday, March 2, 2011
Andy (True Story)
bocah ini mampir sebentar ke Gereja setiap pagi hanya untuk menyapa Tuhan. Tindakannya selama ini diamati oleh seorang Pendeta yang merasa terharu menjumpai sikap bocah yang lugu dan beriman tersebut.
Wednesday, February 9, 2011
Cara Kerja Tuhan Yang Tak Terpikirkan
Sekitar dua tahun yang lalu, saya dihubungi oleh seorang anggota rayon di mana saya menjadi pembina rohaninya. Ia meminta saya untuk mendoakan tetangganya yang beragama Budha yang sedang terbaring di ICU di sebuah Rumah Sakit karena heart attack. Ketika saya datang, istri dan anak dari si sakit memohon supaya orang yang mereka cintai bisa disembuhkan. Bahkan mereka berjanji kalau bapak itu disembuhkan maka mereka sekeluarga akan mengikut Yesus. Janji itu membuat saya bersemangat berdoa memohon supaya Tuhan sembuhkan si bapak.
Sebelum berdoa, saya mengambil waktu sebentar untuk menceritakan tentang Yesus yang menyelamatkan orang berdosa dan menyembuhkan orang sakit. Saya tekankan bahwa yang terutama adalah keselamatan jiwa dulu, barulah kemudian kesembuhan tubuh. Dan puji Tuhan, dengan penyampaian yang sederhana dalam waktu yang relative singkat, bapak itu menerima Yesus sebagai Juruselamat. Kemudian kami pun berdoa bersama-sama.
Hari berikutnya saya datangi mereka, coba sirami iman si bapak yang baru tumbuh dan berdoa bersama keluarganya lagi. Tapi, ketika datang untuk yang ketiga kalinya saya sangat terkejut karena Roh Tuhan memberitahu saya bahwa bapak yang sakit akan meninggal hari itu. Terus terang, saya bergumul dengan diri sendiri karena keluarga tetap meminta supaya saya mendoakan supaya bapak itu sembuh. Saya berpikir, jika saya berdoa untuk menyerahkan jiwa si bapak kepada Tuhan (lazim disebut ‘doa penyerahan’ – dilakukan untuk orang yang akan meninggal) maka keluarga pasti akan tersinggung. Sedangkan kalau saya berdoa supaya bapak itu sembuh, maka bisa jadi saya tidak akan sempat menyerahkan jiwanya ke dalam tangan Tuhan, dan keluarganya mungkin akan meragukan kekuasaan Yesus sebagai Tuhan.
Akhir dari pergulatan batin itu membuat saya memutuskan untuk bertindak sesuai dengan suara Tuhan. Tuhan pun memberikan saya hikmat untuk menjelaskan kepada keluarga itu bahwa manusia hanya bisa berusaha tapi Tuhan tahu yang terbaik dan kehendak Tuhan sajalah yang akhirnya akan berlaku. Puji Tuhan! Keluarga menerima penjelasan saya, dan dengan bahasa yang ‘halus’ saya pun berdoa untuk menyerahkan jiwa bapak itu kepada Tuhan.
Eh.. belum sampai lima menit kami keluar dari ruang ICU, dokter datang menyampaikan bahwa si bapak sudah meninggal… Saya langsung lemas! Gak mungkin lagi keluarga itu akan percaya kepada Tuhan Yesus! Tapi di sisi lain saya dihiburkan, setidaknya bapak itu sudah percaya kepada Tuhan dan saya pun tidak menentang suara Tuhan dalam hati saya. Soal keluarga itu mau percaya Yesus adalah Tuhan atau tidak, sepenuhnya saya serahkan kepada Tuhan. Walaupun begitu, untuk beberapa hari lamanya saya seperti ‘menyesalkan’ keputusan Tuhan yang tidak menyembuhkan bapak itu yang otomatis menutup peluang anggota keluarganya bertobat.
Hampir sebulan kemudian, saya dikejutkan dengan kedatangan keluarga tersebut ke kebaktian rayon. Tetapi saya kemudian coba untuk menahan diri dengan menganggap bahwa mungkin mereka datang hanya sebagai bentuk ungkapan terima kasih atas apa yang saya telah lakukan bagi suami/bapak mereka. Ternyata dugaan saya salah, karena sampai hari ini keluarga itu tetap setia beribadah bahkan bertumbuh dalam iman mereka kepada Yesus.
Beberapa bulan yang lalu, kembali saya dihadapkan pada kasus yang hampir sama. Seorang bapak beragama Budha yang mengalami gagal ginjal dan sudah sering keluar-masuk Rumah Sakit meminta untuk didoakan supaya sembuh, dengan janji bahwa ia dan keluarganya akan mengikut Yesus jika disembuhkan. Sebelum berdoa, lagi-lagi saya beritakan Yesus kepadanya. Dan lagi-lagi puji Tuhan, bapak itu menerima Yesus sebagai Juruselamatnya. Walaupun begitu, toh akhirnya bapak itu harus kembali masuk Rumah Sakit!
Ketika saya mengunjunginya di rumah sakit, lagi-lagi Tuhan berbicara dalam hati saya, “orang ini akan meninggal”. Saya ingat pengalaman hampir dua tahun lalu dan saya kemudian coba menawar Tuhan, “masak sih Tuhan, harus jadi lagi seperti dulu?” Tapi suara Tuhan seperti terus terngiang-ngiang dan saya memutuskan untuk taat. Tanpa banyak bicara saya berdoa dan menyerahkan bapak itu kepada Tuhan. Setelah berbincang-bincang dengan istrinya dengan tujuan untuk membantunya supaya siap mengahadapi kemungkinan terburuk sekalipun, saya pun akhirnya pulang. Dan… selang beberapa jam kemudian saya dikabari bahwa bapak itu telah meninggal!
Kali ini saya tidak lagi mempertanyakan keputusan Tuhan. Saya serahkan semua hasilnya kepada Tuhan. Toh saya sudah lakukan apa yang dapat saya lakukan, hasilnya terserah Tuhan. Toh setiap jiwa Tuhan yang punya. Dan sekali lagi Tuhan buktikan bahwa keputusanNya tak pernah salah. Sudah hampir tiga bulan, istrinya setia datang beribadah di rayon yang saya pimpin dan mulai bertumbuh dalam imannya kepada Tuhan.
Kadang-kadang cara Tuhan bertindak sepertinya “gak nyambung” dengan jalan pikiran kita, sehingga banyak kali juga kita mengira bahwa tindakan Tuhan itu salah. Tetapi Dia selalu membuktikan bahwa tidak selamanya Dia bekerja menurut perkiraan kita. Dia Allah yang kreatif, punya banyak cara yang tak terpikirkan oleh kita untuk dapat membawa jiwa-jiwa datang kepadaNya. Yang terpenting bagi kita adalah kerjakan bagian kita sesuai dengan kehendakNya, dan serahkanlah hasilnya kepadaNya. Di situlah kita akan terpesona oleh cara kerjaNya yang luar biasa ajaib.
Sebelum berdoa, saya mengambil waktu sebentar untuk menceritakan tentang Yesus yang menyelamatkan orang berdosa dan menyembuhkan orang sakit. Saya tekankan bahwa yang terutama adalah keselamatan jiwa dulu, barulah kemudian kesembuhan tubuh. Dan puji Tuhan, dengan penyampaian yang sederhana dalam waktu yang relative singkat, bapak itu menerima Yesus sebagai Juruselamat. Kemudian kami pun berdoa bersama-sama.
Hari berikutnya saya datangi mereka, coba sirami iman si bapak yang baru tumbuh dan berdoa bersama keluarganya lagi. Tapi, ketika datang untuk yang ketiga kalinya saya sangat terkejut karena Roh Tuhan memberitahu saya bahwa bapak yang sakit akan meninggal hari itu. Terus terang, saya bergumul dengan diri sendiri karena keluarga tetap meminta supaya saya mendoakan supaya bapak itu sembuh. Saya berpikir, jika saya berdoa untuk menyerahkan jiwa si bapak kepada Tuhan (lazim disebut ‘doa penyerahan’ – dilakukan untuk orang yang akan meninggal) maka keluarga pasti akan tersinggung. Sedangkan kalau saya berdoa supaya bapak itu sembuh, maka bisa jadi saya tidak akan sempat menyerahkan jiwanya ke dalam tangan Tuhan, dan keluarganya mungkin akan meragukan kekuasaan Yesus sebagai Tuhan.
Akhir dari pergulatan batin itu membuat saya memutuskan untuk bertindak sesuai dengan suara Tuhan. Tuhan pun memberikan saya hikmat untuk menjelaskan kepada keluarga itu bahwa manusia hanya bisa berusaha tapi Tuhan tahu yang terbaik dan kehendak Tuhan sajalah yang akhirnya akan berlaku. Puji Tuhan! Keluarga menerima penjelasan saya, dan dengan bahasa yang ‘halus’ saya pun berdoa untuk menyerahkan jiwa bapak itu kepada Tuhan.
Eh.. belum sampai lima menit kami keluar dari ruang ICU, dokter datang menyampaikan bahwa si bapak sudah meninggal… Saya langsung lemas! Gak mungkin lagi keluarga itu akan percaya kepada Tuhan Yesus! Tapi di sisi lain saya dihiburkan, setidaknya bapak itu sudah percaya kepada Tuhan dan saya pun tidak menentang suara Tuhan dalam hati saya. Soal keluarga itu mau percaya Yesus adalah Tuhan atau tidak, sepenuhnya saya serahkan kepada Tuhan. Walaupun begitu, untuk beberapa hari lamanya saya seperti ‘menyesalkan’ keputusan Tuhan yang tidak menyembuhkan bapak itu yang otomatis menutup peluang anggota keluarganya bertobat.
Hampir sebulan kemudian, saya dikejutkan dengan kedatangan keluarga tersebut ke kebaktian rayon. Tetapi saya kemudian coba untuk menahan diri dengan menganggap bahwa mungkin mereka datang hanya sebagai bentuk ungkapan terima kasih atas apa yang saya telah lakukan bagi suami/bapak mereka. Ternyata dugaan saya salah, karena sampai hari ini keluarga itu tetap setia beribadah bahkan bertumbuh dalam iman mereka kepada Yesus.
Beberapa bulan yang lalu, kembali saya dihadapkan pada kasus yang hampir sama. Seorang bapak beragama Budha yang mengalami gagal ginjal dan sudah sering keluar-masuk Rumah Sakit meminta untuk didoakan supaya sembuh, dengan janji bahwa ia dan keluarganya akan mengikut Yesus jika disembuhkan. Sebelum berdoa, lagi-lagi saya beritakan Yesus kepadanya. Dan lagi-lagi puji Tuhan, bapak itu menerima Yesus sebagai Juruselamatnya. Walaupun begitu, toh akhirnya bapak itu harus kembali masuk Rumah Sakit!
Ketika saya mengunjunginya di rumah sakit, lagi-lagi Tuhan berbicara dalam hati saya, “orang ini akan meninggal”. Saya ingat pengalaman hampir dua tahun lalu dan saya kemudian coba menawar Tuhan, “masak sih Tuhan, harus jadi lagi seperti dulu?” Tapi suara Tuhan seperti terus terngiang-ngiang dan saya memutuskan untuk taat. Tanpa banyak bicara saya berdoa dan menyerahkan bapak itu kepada Tuhan. Setelah berbincang-bincang dengan istrinya dengan tujuan untuk membantunya supaya siap mengahadapi kemungkinan terburuk sekalipun, saya pun akhirnya pulang. Dan… selang beberapa jam kemudian saya dikabari bahwa bapak itu telah meninggal!
Kali ini saya tidak lagi mempertanyakan keputusan Tuhan. Saya serahkan semua hasilnya kepada Tuhan. Toh saya sudah lakukan apa yang dapat saya lakukan, hasilnya terserah Tuhan. Toh setiap jiwa Tuhan yang punya. Dan sekali lagi Tuhan buktikan bahwa keputusanNya tak pernah salah. Sudah hampir tiga bulan, istrinya setia datang beribadah di rayon yang saya pimpin dan mulai bertumbuh dalam imannya kepada Tuhan.
Kadang-kadang cara Tuhan bertindak sepertinya “gak nyambung” dengan jalan pikiran kita, sehingga banyak kali juga kita mengira bahwa tindakan Tuhan itu salah. Tetapi Dia selalu membuktikan bahwa tidak selamanya Dia bekerja menurut perkiraan kita. Dia Allah yang kreatif, punya banyak cara yang tak terpikirkan oleh kita untuk dapat membawa jiwa-jiwa datang kepadaNya. Yang terpenting bagi kita adalah kerjakan bagian kita sesuai dengan kehendakNya, dan serahkanlah hasilnya kepadaNya. Di situlah kita akan terpesona oleh cara kerjaNya yang luar biasa ajaib.
Enaknya Hidup Pas Pasan
. . . cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu.
( Ibrani 13:5 )
Sering kita mendengar keluhan orang yang hidupnya pas2an. Biasanya mereka mengisahkannya dengan penuh perasaan dan dengan menitikan air mata, dan tanpa sadar ada juga yang mengemasnya berupa kesaksian (jadinya kesaksian atau keluhan?).
Sebenarnya hidup dalam kondisi pas2an itu asik lho, ini kisahnya : setahun lalu seorang kerabat menanyakan tentang sebuah HP yg baru di launching oleh Google. Setelah coba dipelajari kemudian saya berikan rekomendasi bahwa HP tsb sangat tepat dijadikan pilihan, karena fitur2nya sangat kaya. Kerabat ini hanya mengucapkan terimakasih untuk saran yang telah saya berikan.
Ternyata kerabat ini berusaha mendapatkan HP tsb melalui berbagai cara, dengan mencarinya di negara tetangga dan googling tetapi tidak berhasil, karena untuk negara kita Google tidak bersedia kirim (mungkin karena maraknya praktek pembobolan kartu credit). Kemudian dia teringat memiliki seorang kakak di Hongkong, yang ternyata bersedia mencari dan mengirimkannya melalui jasa delivery. Yang aneh adalah ketika dia memesannya dua buah, dan satu dikirimkan untuk saya yang memang saat itu memegang HP jadul dan cuma ngimpi buat beli HP seperti itu. Jadi pas Tuhan lihat perlu, pas juga Dia beri.
Suatu kali camera digital lama kami yang layarnya kecil itu rusak, betapa sedihnya hati sang istri karena hobinya memang memotret sana, memotret sini. Katanya dalam hati ingin menyisihkan sedikit demi sedikit uang untuk mengganti camera tua tersebut . . .
Perayaan Jumat Agung tahun lalu, kami mendapat tugas pelayanan ke dua kota kecil di pantura sana, oleh sebab itu sebelum berangkat kami menyempatkan diri untuk mengikuti kebaktian yang diadakan pada Kamis sore. Pada saat menuju tempat kebaktian kami menyusuri jalan dekat stasiun, dan tanpa dinyana terlihat pemandangan yang cukup indah dan menarik : ada cahaya matahari yang terhalang awan sehingga membentuk seperti sorotan kebawah. Dengan camera HP yang ada kemudian dicoba diambil beberapa gambar, tanpa ada maksud apa2, cuma dengan kesan : wah bagus ya, unik . . .
Beberapa hari kemudian tanpa sengaja ketika membuka fb, disana ada tawaran mengikuti lomba fotografi dari sebuah studio foto, dilihat dari tenggat waktunya tinggal dua hari lagi, kayanya sudah tidak mungkin berhasil. Coba2 dia posting hasil jepretannya dengan HP saat akan menghadiri kebaktian tersebut. Tanpa diharapkan sebelumnya ternyata foto itu menjadi foto terbaik pilihan juri walaupun tidak mengumpulkan banyak like, dan hadiahnya? Sebuah camera digital 12 mp. Tuhan memberi pas sesuai dengan kebutuhan, dengan cara-Nya.
Hampir setahun sudah camera itu merekam banyak foto2 yang kadang dijadikan gambar latar power point bahan renungan dalam pelayanan kami. Ada kerinduan di hati istri untuk lebih mengembangkan hobinya, sebab itu kali ini dia memimpikan sebuah camera digital SRL, dan mulai menyisihkan sedikit uangnya, entah kapan bisa terkumpul . . .
Suatu ketika dia melihat lagi sebuah lomba foto di fb dari Sony dengan tema “Me & my passion”. Dia lalu terinspirasi untuk memotret hoby anak kami untuk melukis. Disuruhnya seolah anak kami seolah sedang melukis ulang lukisannya, kemudian di ambil gambarnya beberapa kali. Setelah di upload ke fb respon sangat kecil karena kami tidak memobilisasi teman2 untuk memberikan like nya.
Hari Rabu malam 21 Januari 2011, ketika saya menelusuri postingan di twitter perhatian saya tertuju pada postingan Sony tentang pengumuman pemenang lomba foto. Ketika ditelusuri ternyata pemenang utamanya adalah anak saya dengan hadiah sebuah camera digital SRL (ucapan terimakasih bisa dilihat di akun fb Sony). Fotonya sederhana dan gak istimewa kalau dibandingkan dengan foto2 lain, aneh ya? ( bisa dlilihat di akun fb Sony : http://www.facebook.com/#!/SonyIndonesia).
Wuih memang luar biasa kalau kita mau menyerahkan segala keinginan dan permohonan kita hanya kepada Tuhan Yesus, Dia tahu semua masalah dan kebutuhan, bahkan kerinduan kita, sebelum kita sempat mengatakan bahkan sebelum sempat memikirkannya, Dia yang akan mengatur untuk mengadakan semuanya. Benar kan enaknya hidup pas2an? Pas perlu apa, pas Tuhan adakan dengan cara-Nya, memang enak hidup pas-pasan di dalam tangan Tuhan. (Pdt. Paul Herwanto)
( Ibrani 13:5 )
Sering kita mendengar keluhan orang yang hidupnya pas2an. Biasanya mereka mengisahkannya dengan penuh perasaan dan dengan menitikan air mata, dan tanpa sadar ada juga yang mengemasnya berupa kesaksian (jadinya kesaksian atau keluhan?).
Sebenarnya hidup dalam kondisi pas2an itu asik lho, ini kisahnya : setahun lalu seorang kerabat menanyakan tentang sebuah HP yg baru di launching oleh Google. Setelah coba dipelajari kemudian saya berikan rekomendasi bahwa HP tsb sangat tepat dijadikan pilihan, karena fitur2nya sangat kaya. Kerabat ini hanya mengucapkan terimakasih untuk saran yang telah saya berikan.
Ternyata kerabat ini berusaha mendapatkan HP tsb melalui berbagai cara, dengan mencarinya di negara tetangga dan googling tetapi tidak berhasil, karena untuk negara kita Google tidak bersedia kirim (mungkin karena maraknya praktek pembobolan kartu credit). Kemudian dia teringat memiliki seorang kakak di Hongkong, yang ternyata bersedia mencari dan mengirimkannya melalui jasa delivery. Yang aneh adalah ketika dia memesannya dua buah, dan satu dikirimkan untuk saya yang memang saat itu memegang HP jadul dan cuma ngimpi buat beli HP seperti itu. Jadi pas Tuhan lihat perlu, pas juga Dia beri.
Suatu kali camera digital lama kami yang layarnya kecil itu rusak, betapa sedihnya hati sang istri karena hobinya memang memotret sana, memotret sini. Katanya dalam hati ingin menyisihkan sedikit demi sedikit uang untuk mengganti camera tua tersebut . . .
Perayaan Jumat Agung tahun lalu, kami mendapat tugas pelayanan ke dua kota kecil di pantura sana, oleh sebab itu sebelum berangkat kami menyempatkan diri untuk mengikuti kebaktian yang diadakan pada Kamis sore. Pada saat menuju tempat kebaktian kami menyusuri jalan dekat stasiun, dan tanpa dinyana terlihat pemandangan yang cukup indah dan menarik : ada cahaya matahari yang terhalang awan sehingga membentuk seperti sorotan kebawah. Dengan camera HP yang ada kemudian dicoba diambil beberapa gambar, tanpa ada maksud apa2, cuma dengan kesan : wah bagus ya, unik . . .
Beberapa hari kemudian tanpa sengaja ketika membuka fb, disana ada tawaran mengikuti lomba fotografi dari sebuah studio foto, dilihat dari tenggat waktunya tinggal dua hari lagi, kayanya sudah tidak mungkin berhasil. Coba2 dia posting hasil jepretannya dengan HP saat akan menghadiri kebaktian tersebut. Tanpa diharapkan sebelumnya ternyata foto itu menjadi foto terbaik pilihan juri walaupun tidak mengumpulkan banyak like, dan hadiahnya? Sebuah camera digital 12 mp. Tuhan memberi pas sesuai dengan kebutuhan, dengan cara-Nya.
Hampir setahun sudah camera itu merekam banyak foto2 yang kadang dijadikan gambar latar power point bahan renungan dalam pelayanan kami. Ada kerinduan di hati istri untuk lebih mengembangkan hobinya, sebab itu kali ini dia memimpikan sebuah camera digital SRL, dan mulai menyisihkan sedikit uangnya, entah kapan bisa terkumpul . . .
Suatu ketika dia melihat lagi sebuah lomba foto di fb dari Sony dengan tema “Me & my passion”. Dia lalu terinspirasi untuk memotret hoby anak kami untuk melukis. Disuruhnya seolah anak kami seolah sedang melukis ulang lukisannya, kemudian di ambil gambarnya beberapa kali. Setelah di upload ke fb respon sangat kecil karena kami tidak memobilisasi teman2 untuk memberikan like nya.
Hari Rabu malam 21 Januari 2011, ketika saya menelusuri postingan di twitter perhatian saya tertuju pada postingan Sony tentang pengumuman pemenang lomba foto. Ketika ditelusuri ternyata pemenang utamanya adalah anak saya dengan hadiah sebuah camera digital SRL (ucapan terimakasih bisa dilihat di akun fb Sony). Fotonya sederhana dan gak istimewa kalau dibandingkan dengan foto2 lain, aneh ya? ( bisa dlilihat di akun fb Sony : http://www.facebook.com/#!/SonyIndonesia).
Wuih memang luar biasa kalau kita mau menyerahkan segala keinginan dan permohonan kita hanya kepada Tuhan Yesus, Dia tahu semua masalah dan kebutuhan, bahkan kerinduan kita, sebelum kita sempat mengatakan bahkan sebelum sempat memikirkannya, Dia yang akan mengatur untuk mengadakan semuanya. Benar kan enaknya hidup pas2an? Pas perlu apa, pas Tuhan adakan dengan cara-Nya, memang enak hidup pas-pasan di dalam tangan Tuhan. (Pdt. Paul Herwanto)
Subscribe to:
Posts (Atom)